Anda Pengunjung Ke

Minggu, 17 Maret 2013

Menulis Rangkuman/ Ringkasan Isi Buku


Menulis Rangkuman/ Ringkasan Isi Buku


Indikator:
·         Mendaftar pokok-pokok pikiran buku yang sudah dibaca;
·         Membuat ringkasan dari seluruh isi buku;
·         Mendiskusikan ringkasan untuk mendapatkan masukan dari teman.

Buku ilmu pengetahuan populer saat ini banyak kita temui di perpustakaan maupun di toko buku. Peminat buku ini juga banyak dan beragam. Hal ini menandakan bahwa masyarakat umum sangat haus akan ilmu pengetahuan. Buku ilmu pengetahuan populer tersebut misalnya: Cara Beternak Ayam Potong, Menanam Buah dalam Pot, Cara Mudah Membuat Masakan Rumah, Belajar Menyenangkan. Mungkinkah? Ternyata isi buku ilmu pengetahuan populer sangat beragam mulai dari kesehatan, teknologi modern, pertanian, perkebunan, komputer, dan lain-lain.  Bagaimana agar mudah memahami isi buku tersebut? Salah satu caranya dengan membuat rangkumannya atau ringkasannya.
Menulis rangkuman merupakan upaya menyarikan sebuah teks atau bacaan. Jadi, merangkum sebuah buku adalah mengambil inti sari sebuah isi buku dan menuliskannya kembali menjadi catatan ringkas. Hal yang perlu kalian ingat bahwa sebuah rangkuman isinya mencakup keseluruhan teks atau buku yang dirangkum secara utuh dan lengkap, meskipun dalam penyajiannya lebih padat dan ringkas. Jadi, dalam merangkum jangan sampai ada hal penting dari bacaan atau buku yang tidak terambil atau terangkum.
Adapun yang dimaksud dari buku pengetahuan populer adalah buku yang berisi informasi mengenai pengetahuan yang sifatnya banyak diketahui oleh masyarakat secara umum. Dalam hal ini, sesuatu yang bersifat populer merupakan sesuatu yang sudah biasa diketahui atau akrab di lingkungan masyarakat secara umum. Buku pengetahuan populer memiliki berbagai bidang pengetahuan, misal: peternakan, bisnis, kepribadian secara umum, dan pengetahuan lainnya. Adapun buku pengetahuan yang membahas mengenai disiplin ilmu tertentu secara spesifik dan detail bukan termasuk buku pengetahuan populer, akan tetapi merupakan buku kajian disiplin ilmu. Contoh buku kajian disiplin ilmu adalah buku mengenai Anatomi Tubuh Manusia.
Menulis rangkuman termasuk kegiatan reproduksi tulisan. Kalian membaca buku, kemudian harus menuliskan kembali bahan tersebut menurut hasil penangkapan kalian. Merangkum bukan mengulangi kembali tulisan sebuah bahan. Merangkum berarti memberikan penegasan terhadap penjelasan-penjelasan terdahulu.
Dengan demikian, apabila Anda merangkum sebuah tulisan, Anda tidak harus menuliskan per kata atau per kalimat sesuai dengan bahan yang tersedia, melainkan Anda harus menuliskan dalam bahasa Anda sesuai dengan pemahaman Anda terhadap bahan tersebut. Oleh karena itu, cara yang mudah untuk membuat rangkuman sebuah tulisan adalah Anda harus mencatat pokok-pokok ide (gagasan) dari tulisan tersebut.
Pada akhirnya, Anda akan menuliskan gagasan tersebut sesuai dengan kebutuhan Anda. Anda bisa membuat sebuah rangkuman dalam satu atau beberapa paragraf sesuai dengan materi dan kebutuhan Anda. Rangkuman yang Anda buat, tanpa harus melihat bahasa yang digunakan dalam buku tersebut, melainkan menuangkan pemahaman tentang buku tersebut dalam bahasa Anda sendiri. Dengan demikian, merangkum bukan mengutip kata-kata dalam buku, tetapi membahasakan kembali sesuai dengan bahasa Anda.
Rangkuman sering pula disebut dengan ikhtisar, yakni penyajian singkat dari suatu karangan. Akan tetapi, rangkuman lebih identik dengan ringkasan untuk karangan yang lebih panjang, misalnya berupa buku. Ide-ide pokok yang tersebar dalam banyak bab atau beberapa buku, disatukan ke dalam satu bentuk karangan ringkas. Adapun ikhtisar merupakan ringkasan untuk karangan-karangan singkat, misalnya untuk satu atau dua bab.
Dengan demikian, merangkum merupakan kegiatan menyingkat bacaan dengan tetap mempertahankan urutan isinya. Merangkum mengandung arti mengambil inti karangan. Jenis ini dilakukan dengan cara mengambil inti/ pokok-pokok informasi dalam karangan, lalu menyusunnya kembali menjadi lebih pendek dengan kata-kata dan kalimat yang dirangkai sendiri oleh penyusunnya. Manfaat merangkum merupakan sarana untuk mengingat isi buku atau uraian yang sangat panjang. Rangkuman memuat ide-ide pokok yang mewakili setiap bagian bacaan aslinya. Dengan membaca rangkuman, anda seakan-akan memahami keseluruhan buku tersebut secara utuh.

Adapun langkah-langkah yang perlu dilakukan saat membuat ringkasan atau rangkuman dalam bentuk buku, yakni sebagai berikut:
1.      Membaca naskah aslinya
Sebelum merangkum, kita harus membaca teks bacaan seluruhnya untuk mengetahui kesan umum, terutama maksud penulis dan sudut pandangannya.
2.      Mencatat gagasan utama
Mencari gagasan utama dalam setiap paragraf. Atau mencari informasi pokok dalam setiap paragraf.
3.      Membuat reproduksi
Setelah melalui kedua tahap tersebut, barulah kita menyusun kembali bacaan tersebut dalam suatu karangan singkat berdasarkan gagasan utama yang telah dicatat. Menyusun kembali gagasan utama dengan memperhatikan kata penghubung antarkalimat yang tepat. Selain itu, gagasan utama tersebut disusun secara urut.


Semoga bermanfaat.

Membedakan Fakta dan Opini pada Tajuk Rencana Atau Editorial Dengan Membaca Intensif


Membedakan Fakta dan Opini pada Tajuk Rencana
Atau Editorial Dengan Membaca Intensif

Indikator:
·      Menemukan fakta dan opini penulis tajuk rencana atau editorial;
·      Membedakan fakta dengan opini;
·      Mengungkapkan isi tajuk rencana/editorial .

Membaca intensif merupakan kegiatan membaca bacaan secara teliti dan seksama dengan tujuan memahaminya secara rinci. Membaca intensif merupakan salah satu upaya untuk menumbuhkan dan mengasah kemampuan membaca secara kritis. Tarigan (1990:35) mengutip pendapat Brook menyatakan bahwa, membaca intensif merupakan studi seksama, telaah teliti, serta pemahaman terinci terhadap suatu bacaan. Yang termasuk membaca intensif ini adalah membaca dengan pemahaman.
Tajuk rencana atau editorial adalah opini berisi pendapat dan sikap resmi suatu media sebagai institusi penerbitan terhadap persoalan aktual, fenomenal (luar biasa), atau kontroversial (perdebatan) yang berkembang di masyarakat. Opini yang ditulis pihak redaksi diasumsikan mewakili redaksi sekaligus mencerminkan pendapat dan sikap resmi media yang bersangkutan.

Tajuk rencana mempunyai sifat:
1.      Krusial (genting/gawat) dan ditulis secara berkala, tergantung dari jenis terbitan medianya bisa harian (daily), atau mingguan (weekly), atau dua mingguan (biweekly) dan bulanan (monthly).
2.      Isinya menyikapi situasi yang berkembang di masyarakat luas, baik itu aspek sosial, politik, ekonomi, kebudayaan, hukum, pemerintahan, atau olah raga bahkan entertainment, tergantung jenis liputan medianya.
3.      Anonim (tanpa identitas/tanpa mencantumkan nama penulis)

Karena merupakan suara lembaga maka tajuk rencana tidak ditulis dengan mencantumkan nama penulisnya, seperti halnya menulis berita atau features. Idealnya tajuk rencana adalah pekerjaan, dan hasil dari pemikiran kolektif dari segenap awak media. Jadi, proses sebelum penulisan tajuk rencana terlebih dahulu diadakan rapat redaksi yang dihadiri oleh pemimpin redaksi, redaktur pelaksana serta segenap jajaran redaktur yang berkompeten, untuk menentukan sikap bersama terhadap suatu permasalahan krusial yang sedang berkembang di masyarakat atau dalam kebijakan pemerintahan.

Ada 2 jenis tajuk rencana berdasarkan golongan/sifat:
Tajuk rencana golongan pers menengah ke atas (middle-high media) atau pers yang berkualitas memiliki ciri-cirinya:
a.      Hati-hati (tidak menyebut nama orang yang sedang diberitakan)
b.      Normatif (menurut aturan yang berlaku)
c.       Cenderung konservatif (bersikap sesuai keadaan, mempunyai ciri khas tertentu, tradisi)
d.      Pertimbangan aspek politis lebih besar dari aspek sosiologi.

Tajuk rencana dari golongan pers tengah ke bawah (middle-low media) berlaku sebaliknya.
Ciri-cirinya:
a.      Lebih berani (langsung menyebut nama orang yang diberitakan)
b.      Atraktif (mempunyai daya tarik untuk semua kalangan)
c.       Progresif (bersifat memberi perubahan/ kemajuan)
d.      Lebih memilih pendekatan sosiologis daripada pendekatan politis
Pengertian fakta adalah sesuatu yang tidak diragukan lagi kebenarannya.
Ciri-ciri fakta:
1.        Benar-benar terjadi;
2.        Waktu, tempat, dan tanggal peristiwa jelas;
3.        Diperkuat dengan angka-angka.

Jenis fakta
a.      Fakta umum, adalah kebenaran yang berlaku sepanjang zaman dari dulu sampai sekarang.
Atau informasi yang berisi fakta yang masih umum, belum teruraikan secara khusus tentang nama tempat, objek peristiwa, pelaku, dan sebagainya.
Contoh:
1)      Matahari terbit di sebelah Timur.
2)      Sukabumi merupakan salah satu kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Barat.
3)      Ayah baru pulang dari Prancis, paman dan kakak sedang menjemputnya.
4)      Puluhan pedagang kaki lima dan warung pinggir jalan terkena razia.

b.      Fakta khusus (spesifik), adalah kebenaran yang berlaku dalam suatu periode tertentu.
Atau Informasi yang berisi kejadian/peristiwa lalu dijelaskan secara terperinci dan detail.
Contoh:
1)        Pak Yayan makan bakso.
2)        Ayah baru pulang dari Prancis, paman dan kakak sedang menjemputnya di Bandara Juanda Surabaya kemarin siang.
3)         Puluhan pedagang kaki lima di Jalan Diponegoro dan warung pinggiran terkena razia kemarin pagi.

Pendapat atau opini adalah sesuatu yang kebenarannya masih perlu diuji, karena bentuknya masih berupa pendapat. Kalimat yang mengungkapkan pendapat penulis biasanya ada kata, menurut saya, sepertinya, bagus sekali, sangat (bagus), dan sejenisnya, maka kalimat tersebut berupa kalimat opini. Kalimat opini dibedakan menjadi kalimat opini perorangan dan opini umum.
Ciri-ciri opini:
1.      Belum terjadi (baru rencana);
2.      Berupa pendapat;
3.      Bersifat  subjektif;
4.      Keterangannya belum jelas.

Jenis opini
1.      Opini perorangan (subjektif) : pendapat berdasarkan pandangan pribadi/orang-orang tertentu saja.
Contoh:
·         Menurut para ahli, pada tahun 2020 penduduk Indonesia akan mencapai 400 juta jiwa.
·         Menurut saya, pakaian yang dikenakan pria itu sepertinya bagus sekali.
·         Sepertinya jalanan ini akan banjir.

2.      Opini umum (objektif) : pendapat berdasarkan pandangan (orang banyak/ khalayak umum).
Contoh:
·         Menghisap rokok secara berlebihan akan merugikan diri sendiri.
·         Terjadinya tsunami pada tahun 2004 di daerah Aceh menewaskan banyak korban.
·         Dengan giat belajar dan tekun, akan menjadikan kita semakin pandai.


Semoga bermanfaat.



Menulis Gagasan Untuk Mendukung Suatu Pendapat Dalam Bentuk Paragraf Argumentatif


Menulis Gagasan Untuk Mendukung Suatu Pendapat
Dalam Dalam Bentuk Paragraf Argumentatif


Indikator:
·      Mendaftar topik-topik pendapat yang dapat dikembangkan menjadi paragraf argumentatif;
·      Menyusun kerangka paragraf argumentatif;
·      Mengembangkan kerangka yang telah disusun menjadi paragraf argumentatif;
·    Menggunakan kata penghubung antarkalimat (oleh karena itu, dengan demikian, oleh sebab itu, dll.) dalam paragraf argumentatif;
·      Menyunting paragraf yang ditulis teman.

A.     Pengertian Paragraf
Paragraf adalah rangkaian kalimat yang saling berhubungan dan membentuk satu kesatuan pokok pembahasan dalam sebuah karangan. Dalam paragraf terkandung satu gagasan yang didukung oleh semua kalimat dalam paragraf tersebut. Setiap paragraf terdiri dari kalimat utama/ kalimat topik dan kalimat penjelas. Gagasan utama adalah gagasan yang menjadi dasar pengembangan sebuah paragraf. Sedangkan gagasan penjelas adalah gagasan yang fungsinya menjelaskan gagasan utama.

B.      Syarat-syarat Pembentukan Paragraf
1.       Kesatuan
Setiap paragraf hanya mengandung satu gagasan pokok. Fungsi paragraf adalah mengembangkan gagasan pokok tersebut. Kalimat dalam paragraf tersebut harus mendukung gagasan pokok.
2.       Kepaduan
Syarat kedua pengembangan paragraf adalah kepaduan atau koherensi. Satu paragraf dibangun oleh kalimat yang mempunyai hubungan timbal balik. Jadi, antarkalimat dalam paragraf harus saling mendukung kalimat yang lain.
3.       Kelengkapan
Satu paragraf dikatakan lengkap jika berisi kalimat-kalimat penjelas yang cukup untuk menunjang kejelasan kalimat utama.

C.      Jenis-jenis Paragraf Berdasarkan Tujuan
a.       paragraf argumentatif;
b.      paragraf persuasfif;
c.       paragraf ekspositif;
d.      paragraf naratif; dan
e.      paragraf deskriptif.

Paragraf Argumentatif
Paragraf argumentatif  adalah paragraf yang mengemukakan pendapat/ ide/ gagasan, alasan, contoh, dan bukti-bukti yang kuat dan meyakinkan. Tujuan paragraf argumentatif adalah untuk meyakinkan pembaca agar pembaca yakin bahwa pendapat/ ide/ gagasan penulis benar dan terbukti.

Ciri-ciri paragraf argumentatif
F  Menjelaskan pendapat agar pembaca yakin.
F  Memerlukan fakta untuk pembuktian berupa gambar/grafik, dan lain-lain.
F  Menggali sumber ide dari pengamatan, pengalaman, dan penelitian.
F  Penutup berisi kesimpulan.
Contoh paragraf argumentatif
Akhir-akhir ini tempe sudah tidak lagi menjadi makanan orang-orang pinggiran atau kampung. Betapa tidak, seiring menjamurnya makanan-makanan instan dan modern yang mengandung berbagai bahan pengawet, tempe tetap menjadi makanan tradisional kebanggaan bangsa Indonesia. Terdapat banyak kandungan protein nabati yang tinggi di dalam tempe. Bahkan di Jakarta terdapat rumah makan yang menggunakan menu tempe untuk disajikan dalam berbagai makanan yang lezat. Karena kandungan gizi yang tinggi dan alamiah itulah tempe sudah mulai merambah pasar internasional. Tempe sudah menjadi makanan lokal yang mengglobal di tengah makanan yang hanya nikmat di lidah saja.

Kesimpulan paragraf argumentatif di atas adalah:
Tempe sudah menjadi makanan masyarakat luas yang mampu bersaing dengan makanan lezat lainnya.

Jenis Paragraf Argumentatif
1)      Paragraf argumentatif rincian
Jenis paragraf argumentasi rincian adalah paragraf yang berisi pendapat dan alasan penulis yang disertai beberapa rincian. Misalnya, paragraf argumentasi tentang Jiwa Kepahlawanan.


Contoh:
Jiwa kepahlawanan harus senantiasa dipupuk dan dikembangkan karena dengan jiwa kepahlawanan, pembangunan di negara kita dapat berjalan dengan sukses. Jiwa kepahlawanan akan berkembang menjadi nilai-nilai dan sifat kepribadian yang luhur, berjiwa besar, bertanggung jawab, berdedikasi, loyal, tangguh, dan cinta terhadap sesama. Semua sifat ini sangat dibutuhkan untuk mendukung pembangunan di berbagai bidang kehidupan.

1.      Paragraf argumentatif contoh
Paragraf argumentasi contoh adalah paragraf yang berisi pendapat dan alasan penulis yang disertai beberapa contoh sebagai bukti bahwa pendapat penulis benar dan tidak dapat disangkal lagi oleh pembaca. Misalnya, paragraf argumentatif tentang Bahan Bakar Alternatif.

Contoh:
Setelah manusia mulai menyadari dampak penggunaan bahan bakar fosil yang dapat membahayakan, manusia mulai berpikir untuk mencari bahan bakar alternatif. Tetapi, apakah bahan bakar alternatif lain yang diusulkan ini dapat efektif? Kita ambil contoh, bioetanol yang berasal dari jagung. Jika kita menggunakan etanol dari jagung, maka diperlukan berapa juta hektar lahan jagung untuk memenuhi kebutuhan manusia? Itu akan mengakibatkan dampak lain yaitu berkurangnya lahan tempat tinggal dan lahan hutan. Orang akan membuka hutan dan menjadikannya lahan jagung. Tentunya itu merusak lingkungan bukan?

2.      Paragraf argumentatif sebab-akibat
Paragraf argumentatif sebab-akibat adalah paragraf yang dikembangkan dengan menyampaikan terlebih dahulu sebab-sebabnya dan diakhiri dengan pernyataan sebagai akibat dari sebab tersebut. Contoh paragraf argumentatif tentang Kegagalan Panen.

Contoh:
Musim kemarau tahun ini sangat panjang. Sebelumnya, pohon-pohon di hutan sebagai penyerap air banyak yang ditebang. Di samping itu, irigasi di desa ini tidak lancar. Ditambah lagi dengan harga pupuk yang semakin mahal dan kurangnya pengetahuan para petani dalam menggarap lahan tanahnya. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika panen di desa ini selalu gagal. Hal ini diakibatkan karena pohon-pohon dihutan tersebut ditebang secara liar oleh masyarakat setempat.

3.      Paragraf argumentatif akibat sebab
Paragraf argumentatif sebab-akibat adalah paragraf yang dikembangkan dengan menyampaikan terlebih dahulu akibatnya, kemudian dicari penyebabnya. Contoh paragraf argumentatif akibat sebab tentang Udara Kotor.

Contoh:
Udara di kota-kota industri sangat kotor dengan banyaknya asap hitam hasil pembakaran di pabrik-pabrik. Udara semakin panas sehingga menyebabkan berbagai dampak lingkungan hidup. Es di Kutub Selatan dan di Greenland mulai mencair. Itulah berbagai akibat yang terjadi karena eksploitasi besar-besaran minyak bumi.

Menyusun Kerangka Karangan
Kerangka karangan adalah garis besar dari hal-hal yang hendak ditulis. Dengan kerangka, penulis dimudahkan untuk menuangkan ide secara sistematis, terarah, dan kemungkinan mendapatkan kelengkapan materi. Langkah-langkah proses penulisan pada akhirnya tetap sama-sama membuat kerangka tulisan baik yang konvensional maupun gaya bebas. Perbedaannya gaya konvensional membuat kerangka dulu baru dikembangkan dalam bentuk kalimat dan paragraf. Sedangkan gaya bebas, menulis dulu apa saja yang diketahui dan mengalir saja, baru setelah semua tertulis, kemudian ditentukan inti kalimatnya dan diurutkan sehingga menjadi kerangka.

Perhatikan contoh kerangka karangan tentang Perjuangan Seorang Ibu berikut!
Topik                     : Perjuangan
Subtopik              : Perjuangan seorang ibu

Kerangka karangan
Kerangka karangan
1.       Sejak dalam kandungan
2.       Pemeliharaan sejak bayi sampai besar
3.       Memberikan kasih sayang
4.       Memberikan perhatian dan kasih sayang
1.       Perjuangan tiada henti
2.       Memberikan kehidupan
3.       Perjuangan pemeliharaan
4.       Terus memberikan kasih sayang

Pengembangan kerangka karangan:
Perjuangan ibu tampaknya perjuangan yang tiada henti. Sejak kita di dalam kandungan, ibu telah memberikan kehidupan untuk kita sampai melahirkan. Perjuangan itu disambung dengan pemeliharaannya terhadap kita dengan tulus saat kita bayi, anak-anak, hingga masuk dunia pendidikan. Akankah kasih sayang itu berakhir? Tidak. Ibu terus memberikan kasih sayangnya, perhatiannya, dan segala rasa cintanya dengan membimbing kita dalam hidup ini. 

Kata penghubung (konjungsi)
Konjungsi adalah  kata atau ungkapan penghubung antarkata, antarfrasa, antarklausa, dan antarkalimat. Konjungsi antarkalimat adalah konjungsi yang menghubungkan satu kalimat dengan kalimat yang lain.

Macam-macam konjungsi antarkalimat
1.       Konjungsi yang menyatakan pertentangan dengan yang dinyatakan pada kalimat sebelumnya.
Contoh konjungsi    : biarpun demikian/ begitu, sekalipun demikian/ begitu, sesungguhnya demikian, begitu, walaupun demikian/ begitu, meskipun demikian/ begitu.
F  Saya tidak suka dengan cara dia berbicara. Walaupun demikian, saya harus tetap menghormatinya.

2.       Konjungsi yang menyatakan lanjutan dari peristiwa atau keadaan pada kalimat sebelumnya.
Contoh konjungsi    : sesudah itu, setelah itu, dan selanjutnya
F  Untuk hari ini, yang akan saya pelajari pertama  adalah pelajaran Bahasa Indonesia. Setelah itu, saya akan belajar Matematika

3.       Konjungsi yang menyatakan adanya hal, peristiwa, atau keadaan lain di luar dari yang telah dinyatakan sebelumnya.
Contoh konjungsi    : tambahan pula, lagi pula, dan selain itu
F  Kami menyambut tahun baru dengan kemeriahan kembang api. Selain itu, suara terompet juga ikut menambah semaraknya suasana tahun baru.

4.       Konjungsi yang menyatakan kebalikan dari yang dinyatakan sebelumnya.
Contoh konjungsi    : sebaliknya
F  Janganlah kita membuang sampah di sungai ini! Sebaliknya, kita harus menjaganya agar tetap bersih untuk mencegah terjadinya banjir

5.       Konjungsi yang menguatkan keadaan yang dinyatakan sebelumnya.
Contoh konjungsi    : malahan dan bahkan
F  Penduduk di Indonesia banyak yang mengalami masalah ekonomi. Bahkan, ada penduduk yang sampai bunuh diri karena masalah ekonomi tersebut.

6.       Konjungsi yang menyatakan pertentangan dengan keadaan sebelumnya
Contoh konjungsi    : namun dan akan tetapi
F  Situasi di desa kami sudah cukup aman setelah terjadi gempa tadi pagi. Akan tetapi, pihak yang berwenang  menyuruh warga agar tetap waspada karena ada kemungkinan terjadinya gempa susulan.

7.       Konjungsi yang menyatakan  konsekuensi
Contoh konjungsi    : dengan demikian
F  Kamu telah terpilih menjadi ketua kelas bulan ini. Dengan demikian, kamu harus menjalani tugasmu dengan sebaik-baiknya.

8.       Konjungsi yang menyatakan akibat
Contoh konjungsi    : oleh karena itu dan oleh sebab itu
F  Aku sudah melarangnya untuk melakukan hal itu. Oleh karena itu, biarkan saja dia merasakan akibatnya.

9.       Konjungsi yang menyatakan kejadian yang mendahului hal yang dinyatakan sebelumnya.
Contoh konjungsi    : sebelum itu
F  Ahmad telah berhasil memecahkan rekornya sendiri dalam ajang SEA Games tahun ini. Sebelum itu, dia juga pernah memecahkan rekor atas namanya sendiri pada ajang SEA Games tiga tahun yang lalu.

10.   Konjungsi yang menyatakan keadaan yang sebenarnya.
Contoh konjungsi    : sesungguhnya dan bahwasanya
F  Temanku mengalami kecelakaan tadi siang. Sesungguhnya, aku sudah mencegahnya untuk tidak mengendarai sepeda motor saat hujan tadi siang.




Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda